Kasus Demam Berdarah Meningkat di Kecamatan Poto Tano, Satu Anak Meninggal

KabarNTB, Sumbawa Barat – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sedang mewabah di Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Sampai Senin 2 Januari 2023, tercatat sebanyak 12 kasus DBD di kecamatan setempat.

Bahkan penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aides aegypti itu telah menyebabkan seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun meninggal dunia. Bocah yang tercatat sebagai warga Desa Tambak Sari, sempat dibawa orangtuanya ke Puskesmas Poto Tano, sebelum dirujuk ke RSUD Asy Syfa di Taliwang. Tetapi karena kondisinya yang sudah parah, pihak RSUD Asy Syfa kemudian merujuknya ke RUSP Manambai Abdul Kadir sebelum meninggal dunia dalam perawatan pada 28 Desember 2022 pekan lalu.

Kepala Puskesmas Poto Tano, melalui Dokter Umum dr. Andhika Taruna Kusuma, kepada media ini, Senin 2 Januari 2022, menghimbau agar masyarakat segera membawa keluarga ke Puskesmas jika mengalami gejala demam tinggi.

“Kecenderungan masyarakat baru membawa keluarga atau anaknya ke Puskesmas atau rumah sakit setelah beberapa hari mengalami demam tinggi. Jika sehari atau dua hari mengalami demam langsung dibawa ke Puskesmas dan langsung ditangani secara medis mungkin tidak sampai terjadi ada yang meninggal dunia,” ujar Dokter Andika.

Terkait kasus DBD, ia menjelaskan, sampai saat ini sudah terjadi 12 kasus DPD di kecamatan Poto Tano. Kasus terbanyak ditemukan di  Desa Tambaksari dengan 8 kasus, Desa Tebo 2 kasus dan Desa Senayan 2 kasus. “Hari ini kami di Puoskesmas Poto Tano kembali menemukan 2 kasus yang positif DBD,” ungkapnya.

Kasus DBD pertama di Poto Tano ditemukan pada bulan November 2022 lalu. Saat itu terjadi 2 kasus. Pada bulan Desember tanggal 19 – 20 bertambah 6 kasus dan tanggal 26 Desember ditemukan 1 kasus. “Untuk saat ini kasus terbaru tercatat 2 dari desa Tebo dan 2 dari desa Senayan dan 8 dari desa Tambak Sari total 12 Kasus yang ada saat ini,” sebut Andika.

Dengan tingginya angka kasus DBD di Kecamatan Poto Tano, pihak Puskesmas langsung melakukan langkah-langkah penanganan sesuai prosedur yang telah ditentukan dalam penanganan kasus DBD. “Begitu ada terdiagnosa kami langsung melakukan upaya PE (Penyelidikan Epidemiologi) dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), kemudian penyuluhan serta pemeriksaan jentik berkala dirumah -rumah warga di desa UPT Tambak Sari,” ucapnya.

Ia mengungkap, dari hasil pendataan yang dilakukan Puskesmas Poto Tano di rumah warga Desa Tambak Sari, angka bebas jentik hanya  17,5 persen (banyak jentik) yang rata-rata ditemukan di genangan dan penampungan air. Padahal idealnya angka bebas jentik diatas 95 persen. “Kami dari Puskesmas telah berkordinasi dengan dinas kesehatan terkait kasus ini dan kami telah melakukan upaya sesuai prosedur untuk penanganannya,” terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan KSB, Hj Ernaidawati, yang ditemui terpisah, menyatakan kasus kematian bocah Muhammad Al Rasyid merupakan kasus kematian akibat DPD pertama di KSB dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

“Informasi yang kami terima bahwa korban dibawa ke Puskesmas Poto Tano sudah dalam kondisi sangat lemah. Bahkan untuk diinfus saja sudah tidak bisa. Karena itu langsung dirujuk ke RSUD Asy Syfa. Di RSUD juga demikian, sehingga dirujuk ke RSUP Manambai dan meninggal dunia disana,” jelas Hj Er.

Pihak Dikes sendiri, pada saat kasus itu terjadi, langsung melalukan koordinasi dengan Puskesmas Poto Tano dan pemerintah Desa Tambaksari. Berbagai langkah penanganan guna mengantisipasi penyebaran telah dilakukan. “Selain PE, PSN dan Foging, kami juga sudah meminta seluruh Puskesmas untuk menggiatkan kembali kegaitan sosialisasi keliling ke pemukiman-pemukiman warga tentang bahaya dan tindakan yang perlu dilakukan untuk mencegah DBD.  Di dua bulan akhir tahun dan dua bulan awal tahun (November-Desember dan Januari – maret) memang merupakan siklus DPD karena musim penghujan. Jadi kami himbau masyarakat untuk tetap waspada,” ucapnya.

Untuk tahun 2022 sendiri, jumlah kasus DBD di KSB turun dibanding tahun 2021. “Tahun 2021 tercatat sebanyak 187 kasus, sedangkan tahun 2022 tercatat sebanyak 107 kasus. Tentu butuh kepedulian semua pihak agar tidak terjadi penambahan kasus, termasuk kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan,”demikian Hj Er.(KEN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses