Tahun 1996 saya memutuskan hijrah ke Jakarta. Saya berniat melanjutkan pendidikan di Ibukota Negara yang katanya lebih kejam dari ibu tiri itu. Cerita-cerita tentang perjuangan para perantau dari Taliwang dan Brang Rea (dulu menjadi bagian kabupaten Sumbawa) yang sukses dan pergaulan luas mereka menjadi motivasi tambahan bagi saya. Saya ingin mengikuti jejak mereka.
Di Jakarta saya diterima kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Saya aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan disana sebelum terpilh menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah. Di tahun pertama menjabat sebagai Presiden BEM, saya mendapat pengalaman yang akan menjadi catatan sejarah dalam perjalanan hidup saya dan bangsa ini. Gerakan Reformasi 1998.
Reformasi adalah gerakan koreksi total dan mendasar terhadap rezim Orde Baru yang sudah berkuasa 32 tahun. Sebagai presiden mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta saya terlibat aktif dalam pergerakan pra (pengkondisian) gerakan mahasiswa 98 baik bersama aliansi besar BEM SI dan BEM PTM ( Perguruan Tinggi Muhammadiyah ) se Indonesia juga aliansi lembaga formal kemahasiswaan se-Indonesia (ALFONSO).
Ketika rezim Orde Baru akhirnya tumbang dan Presiden Soeharto meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998, kami yang menjadi bagian dari gerakan mahasiswa merasa lega, meski perjuangan itu harus dibayar tetesan darah dan air mata serta korban jiwa yang meninggal maupun hilang.
Selain aktif di kegiatan kemahasiswaan, saya juga mulai mengenal dan terjun lebih dalam ke dunia politik Islam. Saat itu Saya bersama kolega dan kawan – kawan mahasiswa asal NTB (khususnya Sumbawa) terlibat aktif dalam kelompok kajian (liqa – sekarang disebut UPA) Partai Keadilan (PK) yang kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kita kenal sekarang. Saat itu pula saya mulai dekat dengan Dr Zulkieflimansyah – sekarang Gubernur NTB. Saat itu beliau menjadi murabbi kami di program liqo. Istri saya, Umi Ibad (Nurjihad Ismail) juga iikut aktif di liqo bersama Ibu Niken (istri gubernur Zulkieflimansyah).
Di PK saya menjalani proses akselerasi menjadi Kader Inti (KI). Saya menjalani mabid bersama anggota madya dan ahli di daerah Bumi Serpong Damai (BSD). Bukan tanpa alasan saya menjalani proses tersebut. Saya dipersiapkan untuk melaksanakan konsolidasi partai di Sumbawa.
Awal tahun 2003 saya akhirnya mendapat penugasan untuk pulang kampung dan mendapat amanah menjadi Ketua DPD PK Sumbawa. Saya bersyukur dengan kerja cepat dan kerja keras DPD PKS umbawa terkonsolidasi dengan terbentuknya 24 DPC dan pengurus kecamatan hingga desa (DPRa). Alhamdullillah PK berhasil menjadi peserta Pemilu tahun 2024.
Ketika Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) resmi terbentuk sebagai kabupaten pemekaran dari Kabupaten Sumbawa pada 20 Nopember 2003, tidak lama setelahnya Saya kembali mendapat tugas dan tantangan dakwah. Saya diberi penugasan baru menjadi ketua DPD PKS KSB. Saya Ketua DPD PKS di KSB. Banyak tantangan dan rintangan yang kami hadapi saat membangun partai ini di Sumbawa dan Sumbawa Barat. Namun Alhamdulillah atas kerja keras bersama ikhwa seperjuangan, PKS berhasil mengantarkan tiga kader terbaik untuk duduk di DPRD Sumbawa dan tiga kader terbaik pula untuk duduk di DPRD KSB.
Saya termasuk salah satu dari tiga kader PKS yang berhasil duduk di DPRD KSB. Satu periode menjadi legislator (2004 -2009) berlangsung lancar, baik dan berprestasi. Ini menjadi modal politik PKS pada Pemilu kedua tahun 2009. Kami berhasil mempertahankan tiga kursi di DPRD KSB. Bersama saya ada dua orang kader baru yang duduk di DPRD KSB saat itu.
Namun hidup memang tidak lepas dari ujian. Pada periode kedua inilah terjadi “Prahara Pilkada” yang membuat saya memilih istirahat (mundur) dari DPRD dan juga PKS. Kendati tidak lagi bersama PKS silaturrahmi dan komunikasi saya dengan murobbi pertama saya, Dr Zulkieflimansya tetap terjaga. Bahkan atas arahan beliau pula saya iut terlibat membantu TGB (TGH M Zainul Majdi) yang saat itu terpilih jadi Ketua DPD Partai Demokrat (PD) NTB, dengan menjadi ketua DPC Partai Demokrat KSB.
Sejarah kemudian mencatat satu rahasia yang tak terpikirkan. Bahwa pada suatu saat PKS dan PD bersama dalam Koalisi mengusung paket Zul-Rohmi (Zulkieflimansyah – Sitti Rohmi Djalillah) di Pilkada NTB tahun 2018. Koalisi ini merupakan kelanjutan kerjasama politik kedua Partai saat dulu mengusung TGB – BM (Badrul Munir) dimana PKS berkoalisi dengan PBB.
Saya bersyukur bahwa sejarah politik KSB telah mencatat bahwa saya pernah diamanahi menjadi Ketua Tim Pemenangan (Koalisi Partai Pengusung), baik di era TGB – BM, TGB jilid 2 (TGB- AMIN) maupun Zul- Rohmi.
Kini perjalanan politik dan juga takdir membuat saya kembali ke rumah dakwah, rumah perjuangan, PKS dan mendapat tugas menjadi bagian dari ” pasukan ” pengaman Kursi Dapil 1 (Taliwang) untuk DPRD KSB.(*)







