Model Tambun Dalam Balutan Busana Songket Kertasari Mantar

Para penonton bersorak riuh. Sebagian diantaranya mengangkat sepanduk dan famplet berisi berbagai tulisan bernada lucu. Misalnya, “Jangan Ajar Kami Berjalan, Sejak Lahir Kami Sudah Ditakdirkan Menjadi Model”. Ada pula yang berbunyi “Usai Event Ini Kami Siap Terima Job Modelling”, dan banyak tulisan lainya yang mengundang senyum.

Sorak sorai penonton disusul kemunculan sejumlah peragawan peragawati dari balik panggung di tengah ruangan semi terbuka seluas lapangan sepakbola itu. Mereka berdiri berderet di depan backdrop videotron yang menampilkan nama instansi tempat mereka bekerja, sebelum menunduk memberi hormat ke penonton yang terus saja gemuruh.

Para ‘model dadakan’ itu lalu berjalan berurutan. Satu persatu menuruni tiga anak tangga dari atas panggung ke catwalk dari karpet merah lebar yang digelar di tengah-tengah ruangan.

Bupati HW Musyafirin dan Ketua Dekranasda Hj Hanipa Musyafirin bersama tim juri Teratai Fashion Show

Tak semua peragawan peragawati itu percaya diri. Ada beberapa diantaranya terlihat kaku dan keringatan saat berlenggak-lenggok ditengah penonton yang riuh. Ada yang terkesan sangat menikmati menjadi pusat perhatian, sehingga berjalan sangat lamban dengan lemah gemulai. Ada yang berjalan seperti mengejar waktu, ada pula yang terlampau percaya diri, berpose layaknya atlet binaraga sembari mengumbar senyum dan mengangkat tangan ke penonton. Namun ada beberapa diantaranya seperti punya bakat alami. Performancenya bagus, ditunjang bentuk body yang mendukung.

Tapi bukankah menjadi model tidak harus cantik, bertubuh tinggi, langsing dan sexy untuk wanita? atau bertampang macho dengan tubuh atletis dan perut sixpack untuk pria? Ketidakharusan itu rupanya sangat disadari semua peserta yang terlibat sebagai model di acara peragaan busana bertajuk Teratai Fashion Show yang digelar Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Sumbawa Barat, di Hanipati Taliwang, Sabtu 09 Desember 2023 itu.

Sebagian besar model yang mewakili masing-masing dinas / instansi itu memang tidak bertubuh sempurna. Ada beberapa bahkan yang tambun. Tapi mereka tetap tampil menarik dalam balutan busana berbahan songket lokal yang mereka kenakan. Busana itu juga bukan karya perancang busana ternama. Tetapi hasil kreasi sendiri dengan bahan baku (sebagian) kain songket lokal yang dijahit di penjahit lokal pula. Hasilnya, pantas diapresiasi. Songket lokal Sumbawa Barat yang didominasi kain tenun dari pengrajin di Desa Labuhan Kertasari dan Desa Mantar, terbukti tidak kalah kualitas.

Ketika telah dijahit menjadi busana-pun, tampilannya¬† tidak kalah dibanding songket dari daerah lain di seluruh Indonesia, bahkan yang sudah mendunia sekalipun. Para peserta mengkreasikan kain songket itu menjadi aneka busana resmi, bahkan casual khas anak muda yang aktif dan fashionable. Semuanya terlihat bagus. Dewan juri yang ‘bukan kaleng kaleng’ yang dihadirkan Panitia pasti kesulitan ketika menentukan tim dari dinas mana yang keluar sebagai juara.

Salah satu tujuan dilaksanakannya Teratai Fashion Show yang menjadi bagian dari KSB Fashion Week 2023 nampaknya tercapai. Memperkenalkan songket lokal Sumbawa Barat. Paling tidak kepada para ASN yang menjadi peserta fashion show dan (mungkin) seribuan lebih penonton yang menyaksikan. Sesuai juga dengan tema KSB Fashion Week 2023 “Tenun IKM Maju Berkembang untuk KSB Juara”.

“Tahun ketiga ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena melibatkan OPD. Masing – masing OPD melibatkan pejabat eselon III dan IV dengan jumlah tim minimal 6 dan maksimal 10 orang. Tema busana yang digunakan yaitu casual yang bisa dipakai sehari – hari. Sementara untuk organisasi wanita tema kebaya modern tradisional, dan kategori umum formal resmi. Design busana harus mengunakan tenun asli, dengan komposisi 40 persen tenun KSB dan 60 persen kain biasa,” ungkap Ketua Dekranasda Sumbawa Barat, Hj Hanipa Musyafirin di awal acara.

Membudayakan orang lokal memakai songket lokal yang dibuat para penenun di Kertasari Mantar dan tempat lain di Sumbawa Barat memang masih menjadi tantangan. Berat. Sama beratnya dengan ‘mengubah jalan pikiran’. Butuh kemauan dan kerja keras. Bukan hanya Dekranasda yang sudah tiga tahun berturut-turut menggelar KSB Fashion Week untuk mengangkat dan mempromosikan tenun lokal. Tetapi juga masyarakat itu sendiri.

“Bagaimana caranya kita memperbaiki cara kita mencintai daerah ini, salah satunya dengan menggunakan tenun KSB. Yang paling penting adalah yang kita lakukan hari ini adalah bentuk sinergitas, agar kita bisa menggunakan produk dalam negeri. Semoga ada manfaat lebih besar untuk kemajuan daerah dan masyarakat,” ujar Bupati HW Musyafirin, saat membuka KSB Fashion Week 2023.(*)

Komentar